AKHIR-AKHIR ini, sejak banyak narapidana dibebaskan dengan dalih memutus rantai penyebaran virus korona, rumah-rumah sekaligus kandang hewan peliharaan di kampung mereka kerap kebobolan maling. Selain harus mematuhi rekomendasi pemerintah untuk diam di rumah selama pandemi, pengangguran membeludak. Kasus pencurian semakin marak membuat mereka harus mencurigai siapa pun.
Sebagaimana ketika udara lembap di kaki bukit malam itu. Penduduk dukuh di sana masih kondisi lengang dalam pelukan selimut. Tiba-tiba, gencar titir kentongan membuat mereka terperanjat dari ranjang. Dengan menggunakan nyala obor dan petromaks, semua warga mendengar berbondong-bondong menelusuri sumber sipongang: membakar muram kabut. Di halaman rumah Suntiono kemudian mereka berkumpul.
Menapaki ubin kotor penuh jejak sepatu. Kait pintu yang tampak dirusak. Tangisan ringkih gadis berlumuran darah. Dan mayat seorang duda paruh baya di sudut ruangan dengan luka tusukan di perut: cenderung lebih tampak mengerikan dari beberapa kasus perampokan sebelumnya.
Warga sebagian berupaya melerai air mata gadis itu. Kemudian, membawanya bersama mayat Suntiono ke Puskesmas. Sementara beberapa warga lainnya masih menyelidiki tempat-tempat yang dianggap mungkin perampok keji itu lari.
"Mereka kabur ke arah hutan jati!" ungkap Kang Pono: nihil.
Belum 24 jam, rumah Suntiono esok harinya sudah dipenuhi oleh penduduk setempat, termasuk beberapa petugas polisi yang sedang menyelidiki kasus. Ya, berita perampokan di rumah Suntiono itu kian menyebar tidak hanya di daerah kawasan perbukitan. Semua wartawan media massa pun tertarik untuk meliput ke rumah Suntiono. Di sana, mereka sibuk mewawancarai seorang saksi mata yang semalam menabuh kentongan.
"Tubuh saya disekap di gudang penyimpanan beras dengan kondisi mulut tersumpal kain. Saya tidak bisa mengenali wajah mereka, karena malam itu, listrik di kampung kami sedang diperbaiki," terang Kang Pono dengan wajah melankolis. Dia adalah tukang kebun di rumah Suntiono.
"Siapa pahlawan Anda saat itu? Benda apa yang telah diambil perampok tersebut sebelum mereka pergi?" Petanyaan demi pertanyaan, seperti sedang membombardir Kang Pono. Dia tidak nyaman dengan keberadaan wartawan di sana.
"Ndoro Ajeng membantu saya tidak lama setelah kawanan perampok itu pergi menggondol sejumlah uang dan perhiasan. Saya berupaya meminta bantuan warga, setelah melihat tubuh Bapak tergolek di lantai pojok kamar," jawab Kang Pono. Setelah itu, dia berusaha menghindari kerumunan wartawan. Meskipun lubuk hatinya ada sauh kecewa dengan Suntiono, tetapi dia masih sudi menjawab pertanyaan dari wartawan itu. Bahkan, dia mengatakan bahwa selama hidupnya Suntiono adalah sosok yang sabar dan penyayang.
Memasuki waktu siang, gema sirene mulai menyita perhatian semua orang di sana. Sebagaimana biasa sebelum adanya wabah virus korona, jenazah Suntiono tetap disambut baik oleh warga sekitar. Mula-mula, tampak putri angkat Suntiono itu muncul dari pintu mobil ambulan dengan wajah sedih. Tidak ada bekas luka di tubuhnya. Sepintas, matanya melirik ke arah Kang Pono. Sementara warga lainnya sibuk membantu mayit turun dari ambulans, hingga ke tempat peristirahatan terakhirnya di pemakaman.
"Saya mengajukan surat pengunduran kerja, Non," kata Kang Pono beberapa hari setelah itu.
"Baiklah, Paman. Terima uang ini sebagai bayaranmu selama di sini."
"Terima kasih."
Meskipun Kang Pono baru bekerja selama hampir dua tahun, dia bangga pernah mengabdi di keluaga kalangan mapan seperti keluarga Suntiono. Karena dari uang tersebut, dia bisa membeli seekor sapi dan tiga kambing untuk kesibukan baru di rumahnya.
Dan sebagaimana biasanya, Pak Petengan bersama warga sibuk melakukan tugas patroli. Keliling desa melewati lorong ke rumah-rumah penduduk. Mereka tidak ingin menambah lebih banyak korban. Dengan portal baru di setiap akses, mengingat semakin meningkatnya korban virus korona di luar, selain memblokir jalan di atas jam delapan malam, mereka juga menegaskan wajib memakai masker ke siapa pun yang hendak masuk atau sekadar permisi untuk lewat di jalanan desa mereka.
"Jaga jarak, Saudara! Jangan baris merapat!" ujar Pak Petengan mengingatkan. Mereka sedang berada di perkampungan paling sunyi. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya cukup jauh.
"Tempat di sini selain angker, juga rawan kasus kejahatan, Pak Petengan!"
"Maka itu, perhatikan setiap sudut yang terlihat mencurigakan!"
"Awas ada jalan lubang!"
Tiba-tiba, mereka mendengar teriakan dari jauh. Suaranya seperti lolongan serigala di malam bulan purnama. Warga kembali heboh mencari tahu apa gerangan di balik teriakan yang ternyata adalah suara Kang Pono.
Lelaki bujang tua itu tengah telanjang dada menenteng dua kepala kambing di samping rumahnya. Pendar matanya berkaca-kaca dengan raut wajah putus asa. Kang Pono yang setiap malam suka memastikan hewan peliharaannya di kandang baik-baik saja. Namun malam ini, dia mengaku benar-benar telah kecolongan, bahwa maling memang lebih pandai untuk urusan mengelabui korbannya.
Pencuri ternak itu sudah berani menggorok leher dua ekor kambing Kang Pono sekaligus di tempat. Mereka lantas hanya meninggalkan bagian kepala dan kaki saja untuk pemiliknya di kandang. Tampak di tangan Kang Pono dua kepala kambing itu masih menjulurkan lidah.
"Ini tidak bisa dibiarkan, Bapak-bapak! Saya yakin, semua ulahnya si Madun!" tuding Kang Pono.
"Sabar dulu, Saudara! Jangan mendakwah orang lain sembarangan!" lerai Pak Petengan.
"Kalau polisi tidak punya tempat untuk menahan Madun dari kasus pencurian sebelumnya hanya gara-gara korona, kita tunggu apa lagi, Pak Petengan?"
"Betul! Hakimi saja dia! Bakar sekalian!" sahut salah seorang yang disetujui warga lainnya.
Tidak lama kemudian, mereka sudah berkumpul di halaman rumah si Madun. Setiap tangan mereka mengacung-acungkan potongan besi, bambu, balok kayu, batu, dan bahkan belati yang tampak mengkilap di tangan Kang Pono: siap untuk merobek-robek kulit Madun dan mengeluarkan isi perutnya.
Mendengar ingar bingar warga mengancam akan membakar rumah reyotnya, dari pintu geser itu, Madun kemudian menampakkan batang hidungnya di sana. Wajah lelaki berkalung sarung itu lebih menekankan perasaan takut saat melihat wajah garang warga. Sementara Pak Petengan mengambil posisi memunggunginya—menghadap ke arah warga sembari mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
"Tenang, Bapak-bapak! Negara kita negara hukum! Kita tidak bisa menghakimi Pak Madun secara sepihak."
"Ampun, Saudara. Saya benar—"
"Sudah bungkam saja mulutnya!" sergah Kang Pono.
"Ayo!"
Beberapa di antara mereka segera menyingkirkan Pak Petengan dari pandangan. Sementara warga yang lain menarik kerah Madun ke halaman. Tanpa ampun, senjata di tangan mereka kemudian membabi buta laki-laki itu dengan sadis. Membuat aliran sungai darah dari setiap bagian tubuh menggunakan benda-benda tumpul lagi keras. Dan perutnya yang serupa bantal mendapat tusukan belati secara bertubi-tubi dari Kang Pono.
Seorang wanita kemudian muncul dari pintu dengan dua bocah di tangan kanan dan kirinya. Mereka bertiga itu, terperangah ketakutan melihat Madun kondisi sekarat.
Sementara itu, amukan warga baru berhenti menghakimi setelah belati Kang Pono dibiarkan menancap di leher Madun. Mereka puas. Karena hanya dengan kematian lelaki itu, kasus kematian Suntiono dan perampokan di kampung mereka akan berakhir.
Kalipare-Malang, 17 Mei 2020
Moehammad Abdoe.
Moehammad Abdoe.

Komentar
Posting Komentar