terbit di Jawa Pos, Radar Malang (03/06/2020).
DI antara beberapa banyak kendaraan yang terparkir di sana, Dia terpikat oleh Mercedez-Benz putih di bahu jalan. Mobil dengan harga yang mungkin dapat menyuci tangan pemiliknya selama jangka lima tahun ke depan bila mau dijual.
Laki-laki dengan bentuk mata sedikit juling itu masih terpaku diam. Saranku, jika mengimpikan sesuatu janganlah sekadar mengagumi. Kejar! Dekatilah! Perhatikan dengan saksama lalu-lalang manusia di sana terus berarak memadat mengejar alunan suara dendang pesta perjamuan di akhir kalender. Jangan sampai semua orang nanti malah menyorakimu.
"Kau pasti bisa teman!"
"Sepertinya mustahil," desisnya pelan saat melihat bayangan hitam dirinya di kaca mobil tersebut. Namun, semua itu masih bisa kubaca melalui gerak bibirnya yang kehitam-hitaman. Selalu tidak pernah absen menghisap rokok.
"Apa yang dunia ini mustahil? Kunci keberhasilan semuanya ada di tanganmu sendiri. Dengan tekat yang bulat juga tentunya!"
Kerling matanya kulihat bergerak-gerak di kaca hitam itu seperti ingin mengambil keputusan. Celingak-celinguk. Postur tubuhnya sedikit meringkuk. Hampir ia putus asa. Namun, cepat-cepat aku segera menarik kembali tangannya yang mulai ragu-ragu bertindak.
"Berhasil," ucapnya.
Persis seperti apa yang sudah kubilang, bukan? Bunyi alarm tidak akan ada, kecuali kebetulan saja dipasang untuk sekadar menakut-nakutimu. Berjaga-jaga. Jelas itu semua tidak berlaku pada jiwamu saat kau mempunyai tekat dalam mengambil sebuah sikap. Kau adalah orang kesatria.
"Hahaha, aku hebat. Maksudnya kita sama-sama hebat!" bisiknya pada teman.
Ya, meskipun Dia tak acuh, paling tidak masih kusimpan rasa bangga di balik busung dadanya yang setia akan daku. Kita adalah makhluk kerdil yang sama-sama tidak pernah menelan buku sekolah.
"Terima kasih."
"Yes, aku berhasil lagi!" Terukir kembali lesung pipi setelah bilah pantatnya kedua pemuda itu terjatuh di jok mobil.
"Ah, belum! Masih ada satu kunci lagi," ujar temannya di seberang jok.
Kubaca dari binar matanya saat ini, seperti sulutan api pada lorong belalai yang gelap, atau neraka sekalipun yang paling mengerikan. Yang tadinya ia ragu-ragu dan penuh ketidak-percayadirian, kini ia semakin luas membayangkan sesuatu yang jauh lebih besar dan menguntungkan. Ah, suasana hati manusia setiap saat ‘kan memang selalu berubah-ubah. Tidak bisa fokus pada satu titik. Itulah kelemahan manusia di atas panggung yang sering dimanfaatkan orang lain untuk menjatuhkan.
"Lakukan sekarang!" perintahku.
Bisa duduk di jok mobil mewah belum bisa dikatakan seseorang telah berhasil. Ingat-ingatlah, sebelum asap warga membubung, jangan pernah abai dengan matahari di kepalamu. Percayalah padaku, bahwa kau tidak akan bisa dikalahkan pasukan berkemeja cokelat dengan topi baret di kepalanya yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pundi-pundi dari merebut setir kemudimu. Kau harus bisa lebih licik dalam permainan dunia. Jangan mengalah. Apalagi kasihan.
"Orang tuamu di kampung pasti bangga setelah melihat keberhasilanmu di kota besar Jakarta. Ayo cepatlah selangkah lagi!" perintahku lebih tegas dari sebelumnya.
"Bismillah ...."
Suara decit ban terdengar melengking. Sebentar kemudian, Mersedez-Benz putih tersebut sudah melejit jauh dan menghilang di pengujung aspal sana. Seorang perempuan berompi jingga kemudian kulihat berdiri seraya melambaikan tangan di samping bekas kenangannya.
"Aduh biyuunggg ... mati aku."
***
PADA kesempatan lain, aku melihat seorang fotografer sedang bernegosiasi dengan sepasang lelaki dan perempuan berpakaian resmi. Barangkali, kamera fotografer yang dikalungnya memiliki momentum penting pada waktu itu. Jika Anda mau berpihak padanya, tamu istimewa seperti mereka harus lebih dulu membayar sesuai dengan kualitas gambar, karena setiap gambar atau pemandangan di kameranya adalah karya.
Sementara aku di sini, pura-puranya hanya seorang tukang dorong mobil. Aku baru akan pergi setelah mesin mobil mogok yang aku dorong bisa kembali menyala. Sama seperti ketika aku membantu mobil putih tadi. Pengemudinya tidak lain kebetulan sahabatku sendiri. Tidak mungkin aku pamrih masalah jasa atau honor. Tentu pula upayaku sangat tekun dalam setiap pekerjaan. Sebab itu akan menjadi puncak sebuah keberhasilan bagi seseorang.
Tidak butuh waktu lama setelah kedua pihak menandatangani surat kesepakatan bersama, semua surat kabar di tanah air secara intensif memajang foto-foto sahabatku dilengkapi dengan nomor seri mobil barunya.
Meskipun namaku tidak ada di sana, tapi aku senang melihat kesuksesan sahabatku yang sekarang. Karena kau tidak perlu banting tulang mati-matian untuk menjadi orang besar. Sanak tetangga dan keluargamu di kampung sudah cukup takjub melihat fotomu tampil di koran. Lebih-lebih mereka juga tidak pernah mengira bahwa orang sepertimu bisa mengendarai mobil pengantin yang begitu mewah. Aku yakin, mereka pasti mengira kau menikah dengan anak seorang menteri di Jakarta.
"Harus bagaimana anjing!" umpatmu dengan menyembunyikan wajah di balik kain.
"Lebih baik aku kembali jalan kaki daripada hidup mewah, tapi selalu dibayangi dosa dan ketakutan sepanjang hari!" jawab temanmu seraya membanting sisa puntung rokoknya ke asbak. Mengacak-acak rambutnya yang blonde.
***
LIMA hari setelah kau hidup serba kecukupan, temanmu diberondong dengan senjata api dan kau berhasil melarikan diri ke tempat yang terasa asing bagimu. Sebuah Alas di Jawa Timur yang terkenal begitu luas dan mengerikan. Lebih tepatnya itu di Banyuwangi.
Kau di sana hanya dapat makan buah-buahan atau dari hewan buruanmu seperti ikan, rusa, dan ular yang masih banyak ditemukan di hutan itu.
Namun, bayang-bayang peluru dan ketakutan masih tampak nyata di benakmu. Mungkin hutan itu adalah tempat teraman untuk menghindari teror di kota. Meskipun sebenarnya kau juga tidak akan pernah tahu bahwa nasib temanmu di balik jeruji besi sudah lebih baik daripada mati konyol dengan cara melarikan diri sepertimu.
Untuk kedua kalinya pula, keluargamu terkejut saat melihat siaran langsung di saluran favoritmu kala kau menonton film hollywood. Mereka menitikkan air mata melihat sekelilingmu di layar televisi menyumbat hidung saat tubuhmu ditemukan membusuk di hulu sungai perairan sawah.
Mungkin sebelumnya, kau sendiri juga tidak pernah mengira. Bukankah aku telah mengingatkan siapa dirimu untuk tidak pernah mengabaikan setiap masalah? Ibarat padi sekarang kau sudah menjadi nasi aking. Mustahil kau bisa mengembalikan waktu, kecuali aku akan menemanimu di tempat pengasingan ini untuk selama-lamanya.
Malang, 31 Mei 2020
Tentang Penulis: Moehammad Abdoe, menulis puisi dan cerpen. Saat ini, aktif menulis di Komunitas Bisa Menulis (KBM grup 2013). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai media massa koran daerah serta diabadikan di berbagai buku antologi. Alamat surat elektroniknya (moehammadabdoe@gmail.com).
Komentar
Posting Komentar