Langsung ke konten utama

Postingan

SEBUTIR DEBU (Kumpulan Puisi Moehammad Abdoe)

   Sebutir Debu   Penulis : Moehammad Abdoe Ukuran : 14 x 21 cm Terbit : April 2021 Harga : Rp 76000 www.guepedia.com   Sinopsis :   Kumpulan puisi Sebutir Debu oleh Moehammad Abdoe ini dikuasai oleh 94 himpunan puisi yang membicarakan mengenai persoalan rohani, integritas nasionalisme, religi, serta lebih dalam membahas seputar percintaan. Ilhamnya sendiri dicetuskan melalui pelbagai peristiwa dan persoalan yang kemudian dikemas menjadi sebuah kumpulan puisi yang sangat baik guna merefleksi diri ataupun dalam menjentik kesadaran diri para pembacanya.   www.guepedia.com Email : guepedia@gmail.com WA di 081287602508   Happy shopping & reading Enjoy your day, guys   GUEPEDIA https://www.guepedia.com/Store/lihat_buku/MjE2NDE=  TOKOPEDIA https://tokopedia.com/guepedia/buku-kumpulan-puisi-sebutir-debu-guepedia  BUKALAPAK https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/sastra/4el7lqg-jual-buku-kumpulan-puisi-sebutir-debu-guepedia  GUEPE...
Postingan terbaru

Cerpen Moehammad Abdoe (Fobia).

Terbit di Radar Mojokerto, 19 Juli 2020. ANAK itu bernama Habibi. Semua kawan di sekolah mengenalnya sebagai anak dengan fobia paling aneh. Sekujur badannya mengalir keringat dingin. Gatal-gatal dan sangat merasa ketakutan. Duduk jongkok memeluk lutut di sudut kelas ketika jam istirahat. Di antara bangku-bangku panjang dan kerumunan anak. Kuku di tangannya saling mencakar ke seluruh bagian tubuh yang gatal, seperti sedang merobek-robek kulitnya. Amis darah serta daki kotor di kukunya tentu juga meracik sebuah aroma bangar. Menjijikkan. Memproduksi nanah dari bekas lukanya yang belum sempat kering sebelumnya. Tampak semakin buruk karena mendapat perlakuan yang kasar. Kali ini, Habibi sangat membenci hidupnya. Bahkan, jauh lebih benci dari kawan-kawannya sendiri yang selalu memandangnya rendah dan kerap memaki-maki. "Anak bodoh! Membaca saja tak lancar. Pantas jika tak naik kelas." Mereka tertawa. Habibi diam. Takut. Tidak! Itu semacam tuduhan telanjang bagi mereka. Habi...

Cerpen Moehammad Abdoe (Panggung Sandiwara.

  terbit di Jawa Pos, Radar Malang (03/06/2020).      DI antara beberapa banyak kendaraan yang terparkir di sana, Dia terpikat oleh Mercedez-Benz putih di bahu jalan. Mobil dengan harga yang mungkin dapat menyuci tangan pemiliknya selama jangka lima tahun ke depan bila mau dijual.      Laki-laki dengan bentuk mata sedikit juling itu masih terpaku diam. Saranku, jika mengimpikan sesuatu janganlah sekadar mengagumi. Kejar! Dekatilah! Perhatikan dengan saksama lalu-lalang manusia di sana terus berarak memadat mengejar alunan suara dendang pesta perjamuan di akhir kalender. Jangan sampai semua orang nanti malah menyorakimu.      "Kau pasti bisa teman!"      "Sepertinya mustahil," desisnya pelan saat melihat bayangan hitam dirinya di kaca mobil tersebut. Namun, semua itu masih bisa kubaca melalui gerak bibirnya yang kehitam-hitaman. Selalu tidak pernah absen menghisap rokok.     ...

Cerpen Moehammad Abdoe (Serigala Berbulu Domba).

terbit di Jawa Pos, Radar Banyuwangi (07/062020). AKHIR-AKHIR ini, sejak banyak narapidana dibebaskan dengan dalih memutus rantai penyebaran virus korona, rumah-rumah sekaligus kandang hewan peliharaan di kampung mereka kerap kebobolan maling. Selain harus mematuhi rekomendasi pemerintah untuk diam di rumah selama pandemi, pengangguran membeludak. Kasus pencurian semakin marak membuat mereka harus mencurigai siapa pun.      Sebagaimana ketika udara lembap di kaki bukit malam itu. Penduduk dukuh di sana masih kondisi lengang dalam pelukan selimut. Tiba-tiba, gencar titir kentongan membuat mereka terperanjat dari ranjang. Dengan menggunakan nyala obor dan petromaks, semua warga mendengar berbondong-bondong menelusuri sumber sipongang: membakar muram kabut. Di halaman rumah Suntiono kemudian mereka berkumpul.      Menapaki ubin kotor penuh jejak sepatu. Kait pintu yang tampak dirusak. Tangisan ringkih gadis berlumuran darah. Dan mayat seor...

Cerpen Moehammad Abdoe (Monolog Cermin di Kamar Hotel).

(Terbit di Minggu Pagi No. 04 Tahun 73 Minggu V April 2020). AKU  satu-satunya saksi untuk setiap pasangan di ruangan ini. Jauh hari sebelum wanita itu keluar dengan bau tubuh menyengat. Ada banyak pasangan lain sudah meniduri ranjang di depanku. Kebanyakan dari mereka menginap di sini memang tidak malu untuk menuai kepuasan batin. Sungguh meskipun aku telah berusaha tidak melihat apa yang mereka kerjakan, mereka memaksa aku untuk tidak pernah berpaling. Dua pasang mata itu akan saling melirik dengan bibir tersungging ke atas: berpagut dan saling melecehkan. Kemudian, ada suara-suara kecil seperti bunyi gesekan kayu pada lantai. Perangainya saat memperagakan kakas kuda jantan dan betina. Mereka benar-benar tidak peduli akan apa yang aku lihat adalah sangat memalukan. Aku yakin mereka bukan pasangan yang sah. Lagi pula siapa wanita sungguhan bersedia menikah dengan lelaki yang lebih cocok disebut ayahnya sendiri, kecuali lelaki itu seorang bangsawan dan wanita matr...